Teater, Ruang Pengantar Pesan
Menyuarakan pendapat, menyatakan sikap, pada dasarnya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Ada yang menyampaikannya secara tersurat, ada pula dengan cara tersirat. Teater adalah salah satu cara yang dilakukan untuk menyampaikan pesan, saran, hingga kritik pada keadaan sekitar hingga pada penguasa. Entah kritik didengar atau tidak, itu persoalan belakang.
Kekinian ini, terdapat beberapa kelompok teater yang mementaskan sebuah naskah drama, yang sarat akan kritik dan pesan. Kritik dan pesan yang mereka sampaikan melalui pementasan teater, dikemas dengan apik.
Teater Lingkar adalah salah satu contohnya. Sebelum bulan Ramadan kemarin, tepatnya pada tanggal 20 April 2019, mereka sukses menggelar pementasan teater. Menampilkan cerita dengan naskah Kreteg Mberok, teater yang dipimpin oleh Mas Ton ini mengangkat isu yang berada sangat dekat dengan warga sekitar, yakni warga Kampung Bustaman. Sedangkan Kreteg Mberok sendiri adalah nama sebuah jembatan yang ada di Kampung Bustaman.
Dalam pementasan ini, Teater Lingkar menunjukkan berbagai pekerjaan yang digeluti oleh warga Kampung Bustaman. Seperti penjual bakso, tukang tambal ban, hingga seorang PSK. Pada pementasan kali ini, Teater Lingkar memfokuskan pada keseharian seorang PSK tersebut. Diceritakan, beberapa hari menjelang bulan Ramadan, seorang PSK tersebut masih "mangkal" untuk melayani beberapa pelanggan yang mendatanginya. Namun pada suatu malam, ia tidak mendapatkan seorang pelanggan pun. PSK itu pun dibawa oleh "Mami"nya ke dukun dan dilakukannya beberapa ritual. PSK itu pun kembali menjadi rebutan bagi para pelanggannya. Namun di akhir cerita, datanglah seorang kyai yang memberi nasihat agar ia kembali ke jalan yang benar.
Pesan yang terkandung dalam pementasan tersebut, sengaja disampaikan agar orang-orang kembali pada jalan yang lurus, terlebih pementasan tersebut digelar beberapa hari sebelum bulan Ramadan. Sehingga pesan yang disampaikan tepat sasaran.
Jika Teater Lingkar menggelar pementasan yang sarat akan pesan, ada teater lain yang pementasannya bermaksud mengkritik kejadian yang ada di lingkungan sekitar. Tidak lain tidak bukan, adalah Teater Gema. Pada 30 September 2019, Teater Gema mementaskan naskah berjudul Di Ujung Tombak. Dikisahkan, terdapat seorang wanita tua yang mengabdikan diri bersama anaknya untuk menjaga serta merawat makam nenek moyangnya. Namun wanita tua itu mendengar isu bahwa akan ada orang yang berniat untuk mengubah desa tersebut, tentu saja beserta makam nenek moyang itu menjadi tempat wisata dengan cara direlokasi.
Pak Lurah setempat, menjadi salah satu orang yang mendukung relokasi tersebut dilakukan. Dengan sepenuh hati, ia memaksa Wanita Tua agar mau dan mengizinkan makam tersebut ikut direlokasi. Namun, Wanita Tua tetap menolaknya dan bersikeras mempertahankan makam nenek moyangnya. Di akhir cerita, anak Wanita Tua berlarian kebingungan mencari emaknya. Namun dia tidak menemukan. Lalu, melintaslah dua orang perempuan membawa sebuah karung yang, di dalamnya, Wanita Tua itulah yang ternyata digotongnya.
"Dalam pementasan ini, Teater Gema ingin menyampaikan pesan seputar pergeseran budaya yang semakin tergerus oleh modernisasi", ucap Ucup, sutradara pementasan saat itu. Selain pesan tersebut, terdapat juga kritik yang hendak disampaikan oleh Teater yang dilurahi oleh Aditya Putra Utama ini. "Kita ingin menjadikan isu relokasi ini diangkat kembali. Isu klasik seperti ini kan sering muncul, jadi pengennya kita kritik terus" tutur Lurah Gema saat ditemui usai pementasan.
Pada dasarnya, Teater Gema ingin mengkritik sikap para oknum atau pemegang suatu daerah yang bertindak semaunya mengenai pengembangan objek wisata, namun mengabaikan budaya atau adat istiadat yang ada di daerah yang berkaitan.
Serupa dengan Teater Gema, Teater Aura baru-baru ini sukses mementaskan sebuah naskah berjudul Sintren. Tepatnya pada 24 Oktober 2019. Teater yang berasal dari daerah Brebes ini, membawakan cerita Sintren, tarian khas daerah pesisir utara, seperti Cirebon, Brebes dan sekitarnya. Diceritakan, pada daerah tersebut tarian Sintren sudah jarang dipertontonkan dan didengar keberadannya. Namun beberapa tahun kemudian, ada seorang yang dulunya dukun Sintren, mendapat tawaran untuk memainkan tarian itu lagi. Namun, dukun itu kebingungan siapa yang akan dijadikannya sebagai Sintren. Alhasil, ia memutuskan bahwa anaknyalah yang akan menjadi Sintren.
Tulisan pernah dimuat di website vokalpers.com
Masalah pun timbul mulai dari ibunya yang tidak setuju apabila anaknya dijadikan sebagai Sintren, hingga persoalan yang membuktikan bahwa anak tersebut tidak bisa menjadi Sintren. Karena syarat menjadi seorang Sintren adalah gadis yang masih perawan. Dukun sekaligus ayahnya yang baru saja mengetahui hal itu, murka terhadap anaknya. Ia bertanya siapa yang melakukan hal tersebut pada anaknya, dan ternyata adalah seorang laki-laki, yang tidak lain tidak bukan adalah keponakannya sendiri.
Terlepas dari konflik yang menegangkan, Teater Aura melalui pementasannya tersebut ingin menyampaikan bahwa Sintren sampai sekarang masih ada. Namun, keberadaannya sekarang memprihatinkan. "Sintren kini sudah tergeser oleh organ tunggal, dangdut, dan lain sejenisnya" kata Risang, pegiat Teater Aura. Disebutkan Sintren dulu sering digelar pada saat akan meminta hujan. "Pada musim tandur, para warga menggelar tarian Sintren sebagai permintaan agar turun hujan. Namun sekarang, Sintren dalam setahun hanya digelar dua kali saja, yakni saat Pasar Rakyat dan perayaan 17 Agustus saja" lanjutnya.
Beberapa cuplikan pementasan di atas, menggambarkan bahwa seni teater adalah salah satu media yang tepat digunakan untuk sekadar menyampaikan pesan, saran, hingga kritik kepada siapa saja. Pementasan yang dikemas dengan rapi, umumnya membuat para penikmat teater hanyut dalam cerita dan meyakini kebenaran dalam setiap cerita. Di luar sana, masih banyak pesan, saran, kritik yang disampaikan melalui teater.
Kekinian ini, terdapat beberapa kelompok teater yang mementaskan sebuah naskah drama, yang sarat akan kritik dan pesan. Kritik dan pesan yang mereka sampaikan melalui pementasan teater, dikemas dengan apik.
Teater Lingkar adalah salah satu contohnya. Sebelum bulan Ramadan kemarin, tepatnya pada tanggal 20 April 2019, mereka sukses menggelar pementasan teater. Menampilkan cerita dengan naskah Kreteg Mberok, teater yang dipimpin oleh Mas Ton ini mengangkat isu yang berada sangat dekat dengan warga sekitar, yakni warga Kampung Bustaman. Sedangkan Kreteg Mberok sendiri adalah nama sebuah jembatan yang ada di Kampung Bustaman.
Dalam pementasan ini, Teater Lingkar menunjukkan berbagai pekerjaan yang digeluti oleh warga Kampung Bustaman. Seperti penjual bakso, tukang tambal ban, hingga seorang PSK. Pada pementasan kali ini, Teater Lingkar memfokuskan pada keseharian seorang PSK tersebut. Diceritakan, beberapa hari menjelang bulan Ramadan, seorang PSK tersebut masih "mangkal" untuk melayani beberapa pelanggan yang mendatanginya. Namun pada suatu malam, ia tidak mendapatkan seorang pelanggan pun. PSK itu pun dibawa oleh "Mami"nya ke dukun dan dilakukannya beberapa ritual. PSK itu pun kembali menjadi rebutan bagi para pelanggannya. Namun di akhir cerita, datanglah seorang kyai yang memberi nasihat agar ia kembali ke jalan yang benar.
Pesan yang terkandung dalam pementasan tersebut, sengaja disampaikan agar orang-orang kembali pada jalan yang lurus, terlebih pementasan tersebut digelar beberapa hari sebelum bulan Ramadan. Sehingga pesan yang disampaikan tepat sasaran.
Jika Teater Lingkar menggelar pementasan yang sarat akan pesan, ada teater lain yang pementasannya bermaksud mengkritik kejadian yang ada di lingkungan sekitar. Tidak lain tidak bukan, adalah Teater Gema. Pada 30 September 2019, Teater Gema mementaskan naskah berjudul Di Ujung Tombak. Dikisahkan, terdapat seorang wanita tua yang mengabdikan diri bersama anaknya untuk menjaga serta merawat makam nenek moyangnya. Namun wanita tua itu mendengar isu bahwa akan ada orang yang berniat untuk mengubah desa tersebut, tentu saja beserta makam nenek moyang itu menjadi tempat wisata dengan cara direlokasi.
Pak Lurah setempat, menjadi salah satu orang yang mendukung relokasi tersebut dilakukan. Dengan sepenuh hati, ia memaksa Wanita Tua agar mau dan mengizinkan makam tersebut ikut direlokasi. Namun, Wanita Tua tetap menolaknya dan bersikeras mempertahankan makam nenek moyangnya. Di akhir cerita, anak Wanita Tua berlarian kebingungan mencari emaknya. Namun dia tidak menemukan. Lalu, melintaslah dua orang perempuan membawa sebuah karung yang, di dalamnya, Wanita Tua itulah yang ternyata digotongnya.
"Dalam pementasan ini, Teater Gema ingin menyampaikan pesan seputar pergeseran budaya yang semakin tergerus oleh modernisasi", ucap Ucup, sutradara pementasan saat itu. Selain pesan tersebut, terdapat juga kritik yang hendak disampaikan oleh Teater yang dilurahi oleh Aditya Putra Utama ini. "Kita ingin menjadikan isu relokasi ini diangkat kembali. Isu klasik seperti ini kan sering muncul, jadi pengennya kita kritik terus" tutur Lurah Gema saat ditemui usai pementasan.
Pada dasarnya, Teater Gema ingin mengkritik sikap para oknum atau pemegang suatu daerah yang bertindak semaunya mengenai pengembangan objek wisata, namun mengabaikan budaya atau adat istiadat yang ada di daerah yang berkaitan.
Serupa dengan Teater Gema, Teater Aura baru-baru ini sukses mementaskan sebuah naskah berjudul Sintren. Tepatnya pada 24 Oktober 2019. Teater yang berasal dari daerah Brebes ini, membawakan cerita Sintren, tarian khas daerah pesisir utara, seperti Cirebon, Brebes dan sekitarnya. Diceritakan, pada daerah tersebut tarian Sintren sudah jarang dipertontonkan dan didengar keberadannya. Namun beberapa tahun kemudian, ada seorang yang dulunya dukun Sintren, mendapat tawaran untuk memainkan tarian itu lagi. Namun, dukun itu kebingungan siapa yang akan dijadikannya sebagai Sintren. Alhasil, ia memutuskan bahwa anaknyalah yang akan menjadi Sintren.
Tulisan pernah dimuat di website vokalpers.com
Masalah pun timbul mulai dari ibunya yang tidak setuju apabila anaknya dijadikan sebagai Sintren, hingga persoalan yang membuktikan bahwa anak tersebut tidak bisa menjadi Sintren. Karena syarat menjadi seorang Sintren adalah gadis yang masih perawan. Dukun sekaligus ayahnya yang baru saja mengetahui hal itu, murka terhadap anaknya. Ia bertanya siapa yang melakukan hal tersebut pada anaknya, dan ternyata adalah seorang laki-laki, yang tidak lain tidak bukan adalah keponakannya sendiri.
Terlepas dari konflik yang menegangkan, Teater Aura melalui pementasannya tersebut ingin menyampaikan bahwa Sintren sampai sekarang masih ada. Namun, keberadaannya sekarang memprihatinkan. "Sintren kini sudah tergeser oleh organ tunggal, dangdut, dan lain sejenisnya" kata Risang, pegiat Teater Aura. Disebutkan Sintren dulu sering digelar pada saat akan meminta hujan. "Pada musim tandur, para warga menggelar tarian Sintren sebagai permintaan agar turun hujan. Namun sekarang, Sintren dalam setahun hanya digelar dua kali saja, yakni saat Pasar Rakyat dan perayaan 17 Agustus saja" lanjutnya.
Beberapa cuplikan pementasan di atas, menggambarkan bahwa seni teater adalah salah satu media yang tepat digunakan untuk sekadar menyampaikan pesan, saran, hingga kritik kepada siapa saja. Pementasan yang dikemas dengan rapi, umumnya membuat para penikmat teater hanyut dalam cerita dan meyakini kebenaran dalam setiap cerita. Di luar sana, masih banyak pesan, saran, kritik yang disampaikan melalui teater.


Sipp sipp lanjutkan rull
ReplyDelete✨
Delete