Ada Apa Mahasiswa UPGRIS dan Musik?

            Mahasiswa dan musik dapat diibaratkan seperti dua buah sisi koin uang logam, yang tidak dapat dipisahkan. Di mana mahasiswa menyelenggarakan acara, di situlah terdapat sebuah acara musik. Mahasiswa universitas PGRI Semarang dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir sering menyelenggarakan sebuah konser musik. Dari berbagai aliran pernah diselenggarakan oleh mahasiswa UPGRIS. Seperti aliran dangdut, dengan mengundang Via Vallen pada tahun 2017. Dari aliran pop seperti mengundang Letto pada tahun 2018 dan Sheila on 7 tahun 2019. Aliran rock seperti Gafarock pada tahun 2017. Sampai aliran gamelan modern dengan mengundang Gamelawan pada tahun 2017. Sedangkan aliran ska, yaitu Skamasker, hampir selalu diundang oleh panitia setiap ada acara mahasiswa yang berhubungan dengan musik. Meskipun grup ska tersebut tidak menjadi bintang tamu yang utama, kehadirannya juga sangat ditunggu-tunggu oleh para penonton.
            Grup band yang diundang oleh mahasiswa pun dapat dikatakan berasal dari berbagai lapisan. Seperti grup band yang kurang diminati, sampai dengan yang sedang tenar-tenarnya. Sedangkan apabila dikorelasikan antara acara mahasiswa yang sedang terselenggara dengan grup band yang diundang, dapat dikatakan tidak sinkron. Karena pada dasarnya, saat mahasiswa mengundang sebuah band tujuannya adalah dalam rangka penutupan serangkaian kegiatan yang sudah selesai terselenggara. Acara mahasiswa pada umumnya seperti Pekan Olahraga dan Seni (Porseni), peringatan Hari Pahlawan, peringatan Hari Kartini, peringatan Bulan Bahasa, dan penutupan acara festival sebuah jurusan atau fakultas. Sedangkan dalam penutupan acara tersebut, mahasiswa memilih band seperti Letto, Sheila on 7, Skamasker, dan lain sebagainya untuk menjadi penutup acara yang dapat dikatakan tidak sinkron dengan acara tersebut. Tidak sinkronnya terletak pada esensi acara tersebut dengan bintang tamu yang diundang.
            Misalnya saja, peringatan Hari Pahlawan. Ada serangkaian lomba yang berhubungan dengan Hari Pahlawan. Seperti lomba menyanyi dan fashion show bertemakan hari pahlawan. Lalu, acara penutupan dari kegiatan tersebut adalah menyelenggarakan acara dengan bintang tamu sebuah band, yakni Letto. Contoh lain yaitu saat program studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) menyelenggarakan acara penutupan PGSD Fair 2018 dengan mengundang Guyon Waton. Sedangkan rangkaian kegiatannya yaitu lomba tari dan mewarnai yang diikuti oleh siswa SD/MI se-kota Semarang, lomba solo vokal tingkat SMA/SMK/MA se-kota Semarang, serta lomba lain yang khusus diikuti oleh mahasiswa PGSD seperti lomba desain poster, duta PGSD, festival budaya lomba, dan lomba solo vokal.
            Lalu, mengapa mahasiswa UPGRIS mengundang artis tersebut? adakah alasan yang kuat dalam memilih bintang tamu? Meskipun hampir tidak ada korelasi antara acara mahasiswa dengan bintang tamu yang diundang, panitia penyelenggara acara memiliki alasan tersendiri. Seperti mengikuti selera musik yang sedang diminati oleh mahasiswa UPGRIS, mengikuti pilihan dari panitia, dan mengundang bintang tamu yang dapat membuat penikmatnya bernostalgia karena band tersebut telah tenar pada zamannya dan masih bertahan sampai sekarang. Namun, haruskah mahasiswa penyelenggara memilih bintang tamu yang berhubungan dengan musik dalam acaranya?
            Banyak hal yang sebenarnya dapat dilakukan oleh mahasiswa dalam memeriahkan acara penutupan dari serangkaian kegiatannya. Sebenarnya tidak harus melulu mengundang bintang tamu yang berkaitan dengan musik. Jika tidak berhubungan dengan musik pun, mahasiswa akan tetap berminat dalam sebuah acara apabila mengundang bintang tamu yang sesuai dengan bidang mahasiswa penyelenggara tersebut. Tetapi, memang akhir-akhir ini acara yang diminati oleh mahasiswa UPGRIS adalah acara yang berbau dengan musik. Itu terjadi karena kebiasaan mahasiswa UPGRIS yang terlalu sering menyelenggarakan acara musik dan menganggap seperti hal yang wajib. Kebiasaan tersebut dapat diubah seiring dengan berjalannya waktu dan dimulai dari mahasiswa itu sendiri. Seperti mengurangi kebiasaan menyaksikan acara yang mengundang bintang tamu berhubungan dengan musik.
            Apabila mahasiswa UPGRIS sudah mengurangi kebiasaan tersebut, maka penikmat musik di kalangan mahasiswa UPGRIS lama-kelamaan akan berkurang. Jika sudah seperti itu, panitia penyelenggara sebuah acara pun akan mikir pindho atau berpikir dua kali saat akan menggelar sebuah acara dengan mengundang bintang tamu yang berhubungan dengan musik. Mahasiswa juga harus menyadari bahwa acara musik dalam serangkaian kegiatannya adalah sesuatu yang tidak sinkron dan tidak menjadi sebuah kewajiban. Akan menjadi sesuatu yang lebih positif apabila mengundang bintang tamu yang sesuai dengan bidangnya masing-masing. Yang membuat bertambahnya pengetahuan dalam bidangnya. Bukan hanya menyelenggarakan acara yang mengincar ketenaran saja. Perubahan itu dapat dimulai dengan mengurangi kebiasaan mengundang dan menonton sebuah acara yang dihadiri oleh bintang tamu di bidang musik.
Nurul Hidayah

Comments

Popular Posts