#1 Aku, Kamu, dan Magelang
Rintik hujan
baru saja berhenti, dari atap rumah. Hanya ada satu, dua, tiga, empat hingga lima tetesan saja. Sisa
dari hujan deras yang baru saja menyerang bumi secara bergerombolan. Bau tanah
yang basah karena air hujan menjadi sangat khas, perlahan terhirup. Terasa sangat
segar. Hujan benar-benar berhenti. “Dan inilah saatnya!” Teriakku dalam hati.
Malam itu,
hujan berhenti tepat setelah salat isya. Aku baru saja melipat sajadahku. Wajah
yang masih segar karena terkena air wudu, kutimpali dengan sedikit bedak dan
teman-temannya. Jam 8 malam, katamu akan sampai. Karena itu, aku segera
bersiap-siap. Agar kamu tidak menunggu terlalu lama.
Aku sangat
ingat bagaimana suara motormu. Meskipun banyak motor yang sedang sedang berlalu
lalang, motormu tetap mempunyai suara khas, yang membuatku senang mendengarnya.
Karena saat itu, tandanya kamu sudah datang. Aku keluar menghampirimu, yang
alhamduillah tidak basah. Karena kamu berangkat setelah hujan reda, katamu.
“Sudah siap?” tanyamu. Aku naik di belakangmu, pertanda aku
memang sudah siap. Tentunya siap untuk pergi denganmu. Menuju Magelang, bersama
teman-temanmu.
“Kita ke warung kopi dulu, teman-teman menunggu di sana.” Katamu
memberi tahu.
Kemana pun
itu, asalkan bersama kamu dan membuatku senang, aku akan ikut. Di sana,
teman-temanmu sudah berkumpul di depan warung kopi. Ada yang hanya duduk dan di
depannya terdapat kopi, sambil bermain gawai. Memetik gitar dan menyanyikan
lagu yang ia bisa, pun ada. Ada pula yang sedang memperbaiki motor. Karena saat
itu, kami akan bersiap menempuh perjalanan yang cukup panjang, dari Semarang
menuju Magelang.
Ini adalah pengalaman
pertamaku. Perjalanan dipilih saat malam hari karena malam hari jalanan lebih
longgar, sepi, dan tidak ada polisi (untuk kami yang takut pada polisi, karena tidak punya SIM). Selain itu, malam hari dipilih karena,
acara yang akan kami tuju di Magelang memang berlangsung di pagi hari. Sehingga,
dirasa pas apabila perjalanan ditempuh saat malam hari.
“Kalau ngantuk, bilang. Pegangan yang erat. Nanti jatuh ke
belakang kan nggak lucu.” Memang tidak lucu, garing.
Akan dilanjut pada bagian selanjutnya. Nantikan #2


Comments
Post a Comment