#3 Aku, Kamu, dan Magelang
“Niki ngangge tikar
mawon, Mbak. Ting jubin mangkih anyep.” Tawarnya kepada kami bertiga.
Kamu dan
temanmu yang semula sudah kembali tidur setelah cengengesan tadi, terbangun
kembali. Kalian berlomba-lomba menolak tawaran laki-laki tua itu. Tolakanmu kau
jadikan sebagai rasa sungkan, karena sudah diperbolehkan tidur di halamannya,
namun juga masih ditawarinya menggunakan tikar.
“Mboten usah, Pak. Ngeten
mawon nggeh mboten anyep.”
Aku melirik
kalian dengan tawa sinis. Hahaha. Setelah itu, laki-laki tua bergegas menuju
masjid. Memakai sandal karetnya yang berwarna biru, bertuliskan Swallow. Di ujungnya
terdapat irisan tiga segitiga, sebagai tanda agar tidak tertukar dengan sandal
milik orang lain.
“Nggeh mpun. Kulo dokoke
ting mriki nggeh. Kangge lemek monggo.”
Kami bertiga
saling bertatap-tatapan, seperti kucing yang sedang berhadapan dengan musuhnya.
Merebutkan ikan asin yang dicurinya dari meja ibu kos. Seperti kilatan petir,
kami menuju tikar yang ditinggal tersebut dan memang seperti kucing tadi, kami
berebutan.
“Tadi bilangnya tidak usah. Sekarang bapaknya ke masjid, eh
rebutan tikar.” Kataku mengejek.
Karena tikarnya
tidak terlalu longgar, kamu dan temanmu memakainya. Bahkan, karena posisi
tidurmu yang melingkar, temanmu hanya dapat bagian untuk setengah tubuhnya
saja. Kami bertiga melanjutkan tidur cukup lama. Jika dihitung, mungkin sekitar
37 menit. Laki-laki tua yang tadi pergi ke masjid, nampaknya tidak hanya salat
saja. Karena, jika salat saja, mungkin 15 menit kemudian ia akan kembali. Ini tidak.
Mungkin ia berzikir dan berbincang dengan warga yang juga sedang salat subuh di masjid.

Comments
Post a Comment