#4 Aku, Kamu, dan Magelang


Maturnuwun, nggeh, Pak. Ngapuntene sampun ngrepoti.” Katamu ke laki-laki tua itu.

Nggeh mboten nopo-nopo. Santai mawon. Saking pundi niki?” tanyanya.

“Saking Semarang, Pak.” 

            Setelah berbincang singkat, kami menuju teman-teman kami. Di pelataran pintu masuk Candi Borobudur.

“Bapaknya baik ya. Aku kira, kita tadi bakal dimarahin atau diusir. Ternyata tidak sama sekali. Malah kita diberi tikar biar tidak kedinginan katanya.” Kata temanmu terheran-heran.

            Sebelum pergi, tikar telah dilipat kembali. Aku melihat sapu, dan kusapu halaman bekas kami tempati tadi. Saat berjalan menuju tempat teman-teman, suasana terasa dingin. Motor-motor semakin banyak berdatangan dan suaranya bising. Saat sampai, teman kami ada yang masih tertidur, terbangun karena suara motor bising. Melihat tidak ada tempat untuk kami (aku dan kamu) duduk, kamu kembali mengajakku berkeliling. Naik motor. Kali ini, pemandangan di sekitar Candi Borobudur sudah mulai terlihat. Beda dengan berkeliling yang pertama, masih gelap. 

            Karena dingin, aku mendekapmu. Tanganku, kumasukkan ke dalam saku jaket hitammu yang tebal. Namun, jangan mencurigaiku kalau aku akan mencopet dompetmu, aku hanya ingin sedikit merasa hangat karena tidak terkena angin pagi secara langsung. Kami melihat kiri kanan, banyak juga yang seperti kami. Tidur di atas tikar, di sebelahnya, belakangnya, ataupun depannya terdapat motor yang berjejer dengan rapi. Dengan warna-warni yang cerah. Setelah melihat-lihat, kami kembali ke tempat teman-teman. Mereka semua sudah bangun. Saat itu, sekitar pukul 07:05.

            Kami semua bersiap-siap menuju panggung acara. Acara yang kumaksud adalah Kopdargab dan Caturwulan 1 CB Magelang. Itu adalah pengalaman pertamaku. Touring dengan naik motor, dari Semarang menuju Magelang. Perjalanan panjang dan membutuhkan waktu yang lama. 

            Aku dengan aku, yang mudah sekali mengeluh, menyalahkan semua hal, kulampiaskan ke kamu. Kamu, dengan kamu, yang kurasa cukup kuat dan sabar menghadapiku. Hal itu, kamu buktikan dari awal. Dari kami berangkat sampai pulang. Dan kamu, tidak kapok mengajakku untuk sekedar menemanimu touring, menuju tempat-tempat lain. Yang belum pernah kami datangi berdua. Perjalanan seperti ini, tidak hanya membuatku lupa pada penat akan aktivias perkuliahan yang menjenuhkan, dengan segala tugas dan deadlinenya, touring (bersamamu) juga memaksaku pulang ke rumah dengan membawa kenangan. Serta rindu yang mengajakku kembali menempuh perjalanan seperti itu.

(Semarang/9:50/12:10:19)

Comments

Popular Posts