Jadi "Bojo Tuman"
Saat berpacaran, setiap hari
bersedia untuk antar jemput sang kekasih. Bersedia mengajak jalan-jalan dan
piknik kemanapun. Namun, setelah menikah, antar jemput saja sudah merasa
enggan, apalagi mengajak piknik. Itulah gambaran nyata saat pasangan dalam masa
pacaran dan sudah menikah. Masa-masa pacaran adalah masa-masa yang dikatakan
indah. Mengapa tidak? Karena masa pacaran muda-mudi sedang dimabuk cinta.
Segala hal permintaan kekasihnya pasti akan selalu dituruti. Dengan dalih agar
kekasihnya tidak marah, tidak kecewa kepada dirinya. Contoh saja, mungkin ada
seorang perempuan yang malam-malam sedang lapar dan kebetulan sekali di rumah
makanan sudah habis, namun tidak ada inisiatif untuk memasak mi atau membeli
makan di luar. Dengan segala kode, perempuan tersebut menyuruh pacarnya untuk
membelikan makan di luar dan diantarkan ke rumahnya. Pacarnya menuruti
permintaan perempuan itu, dengan tujuan agar pacarnya tidak marah dan kecewa
kepadanya. Hal tersebut sebenarnya tidak dilakukan oleh orang-orang yang
berpacaran saja.
Ketika
dalam masa pendekatan pun, seorang perempuan biasanya menyuruh laki-laki yang
sedang mendekatinya untuk membelikan makan di tengah malam, membelikan jajan,
dan sebagainya. Hal itu mungkin dilakukan perempuan untuk melihat kesungguhan
laki-laki terhadap dirinya. Jika begitu, pasangan dan babu hampir tidak ada
bedanya. Dalam masa pacaran, semua perhatian, kasih sayang, dan hal yang
manis-manis seakan diberikan kepada pasangannya. Sebut saja jika pasangan
perempuannya tersandung sesuatu dan hampir jatuh. Saat pacaran, laki-laki
mungkin akan memberikan perhatiannya seperti bertanya “Kamu kenapa?” “Bagian
mana yang sakit?” “Tidak apa-apa kan?”. Sungguh manis. Mungin berbeda dengan
pasangan yang sudah menikah ketika salah satu di antara mereka tersandung dan
hampir terjatuh juga. Mungkin kata-kata yang keluar adalah “Gimana sih? Jalan
saja tidak becus.” “Makanya kalau jalan pakai mata dong.” “Punya mata kok gak
dipakai”. Dan lain sejenisnya mungkin saja terjadi.
Jika
dalam masa pacaran, sepasang kekasih mungkin ada yang mempunyai jadwal rutin
untuk berpiknik. Dan tempat yang didatanginya pun berbeda-beda. Bukan pada
tempat yang sama. Misalnya minggu ini pergi ke tempat A, minggu besok ke tempat
B, minggu selanjutnya ke tempat C, dan seterusnya. Namun, keadaan berbeda
mungkin akan ditemui saat sudah menikah. Sepasang suami istri mungkin tidak
mempunyai jadwal rutin untuk piknik. Jangankan jadwal rutin, piknik sebulan
sekali saja belum tentu dilakukan. Ada berbagai alasan yang menyebabkan
pasangan setelah menikah tidak melakukan piknik. Seperti sibuk kerja, sibuk
mengurusi pekerjaan rumah, dan lain sejenisnya. Namun, kerap kali pasangan yang
sudah menikah, perempuanlah yang cenderung mengajak laki-laki untuk pergi
sejenak untuk menyegarkan pikiran. Namun laki-laki enggan menurutinya. Berbeda
saat berpacaran yang siap sedia diajak pergi ke manapun.
Pernah
aku melihat unggahan status seorang perempuan di media sosial yang bertuliskan
”Diajak dolan bojone wegah, diajak dolan
kancane langsung mangkat”. Terlihat sekali bahwa perempuan tidak pernah
dituruti kemauannya saat mengajak pergi berpiknik. TUMAN! Mungkin itu adalah kata yang sangat pas
diungkapkan oleh seorang perempuan dalam posisi seperti di atas. Dengan begitu
dapat disimpulkan bahwa hubungan saat berpacaran dan hubungan saat sudah
menikah memang tidak sama. Tidak semanis saat berpacaran, tidak seromantis saat
berpacaran. Pasangan yang sudah menikah mungkin akan lebih masa bodoh dengan
pasangannya jika ingin marah karena permintaannya tidak dituruti. Tragis.
Karangtempel-Semarang, 13 Maret 2019
Nurul Hidayah, mahasiswi semester 4 Pendidikan Bahasa dan Sastra
Indonesia, UPGRIS.


Comments
Post a Comment