TikTok; Degradasi Atau Inovasi?

            Tahun 2020, tampaknya menjadi tahun yang suram bagi dunia, termasuk untuk Indonesia. Hal ini bisa dirunut mulai dari pergantian tahun yang diserbu hujan deras semalam suntuk, sehingga membuat banjir menggenangi berbagai daerah. Bulan kedua, beberapa negara di dunia mendapat ancaman dari Covid-19, virus yang mematikan. Hingga tibalah saatnya Indonesia menghadapi virus tersebut secara langsung, pada bulan ketiga 2020 sampai saat tulisan ini dibuat (11/11). Kemunculan Covid-19 memberikan dampak di segala aspek kehidupan. Di bidang pendidikan, siswa dianjurkan untuk belajar di rumah. Di dunia pekerjaan, karyawan terpaksa dirumahkan. Hal tersebut tentu membuat orang-orang memiliki waktu luang untuk tetap berada di rumah saja.

            Saat diharuskan berada di rumah saja, orang-orang melakukan berbagai hal supaya tidak bosan. Kemudian, muncullah sebuah aplikasi pembuat video singkat yang menawarkan beberapa fitur menarik. Aplikasi ini bernama TikTok, yang muncul untuk menjawab kebosanan orang-orang selama di rumah saja. Sejatinya, aplikasi TikTok sudah muncul sejak lama, beberapa tahun yang lalu. Namun TikTok sempat redup, menghilang, dan kini hidup lagi sebagai aplikasi yang paling banyak diunduh di seluruh dunia. Bahkan dulu, ada seorang remaja laki-laki yang sering bermain TikTok, digemari oleh banyak remaja perempuan, namun ada pula yang menghujatnya, sebab menurut pandangan publik, remaja tersebut norak. Tentu namanya sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, yakni Bowo TikTok.

            Dulu, Bowo TikTok disebut norak karena konten yang dibuat di TikTok. Bowo mengunggah video berjoget atau kompilasi kata-kata mengenai percintaan dengan durasi pendek. Namun, pandemi Covid-19 seolah 180˚ memutarbalikkan hal tersebut. Waktu yang begitu luang dimiliki oleh orang-orang, membuat mereka mencoba membuat konten di TikTok. Mereka mengunggah video berjoget-joget, sepotong drama pendek, dan konten lainnya. Konten yang ada di TikTok sering dinilai sebagai konten yang tidak pantas. Orang-orang yang kontra dengan aplikasi ini akan menyoroti hal yang diaggap buruk saja. Konten yang paling sering diperbincangkan pada awal kemunculan aplikasi ini adalah seorang perempuan yang (dianggap) seakan tanpa malu berjoget di depan kamera dan diunggah untuk disaksikan oleh banyak orang. Konten tersebut akan menjadi perbincangan yang hangat lagi apabila perempuan tersebut memakai jilbab dan dengan lincahnya berjoget di depan kamera.

            Para netizen yang tidak menyukai hal tersebut, mereka akan menghujat alih-alih menasihati pembuat konten di kolom komentar video TikTok. Bisa dikatakan, netizen akan menjadi “malaikat” pencatat amalan dadakan yang menyatakan bahwa hal tersebut adalah dosa. Atau menjadi penilai moral dengan mengatakan “jilbabnya lepas aja sekalian”, atau “nggak malu sama jilbabnya?”, atau bahkan menjadi ustaz dadakan dengan mengatakan “video kamu itu nanti akan menjadi dosa jariyah”.

            Terlepas dari hal di atas, masing-masing orang memiliki pilihannya masing-masing. Seorang pembuat konten di TikTok memiliki pilihan terhadap hal yang akan dibuatnya melalui TikTok. Sekalipun itu seorang perempuan dan memilih untuk membuat konten berupa video untuk menampilkan kemampuannya dalam hal kaver video menari. Sedangkan pengguna TikTok yang lain, pun memiliki pilihan untuk tidak menyaksikan video tersebut apabila tidak menyukainya alih-alih tetap menyaksikan dan memberikan komentar buruk.

Wajah Lain Aplikasi TikTok

Citra negatif aplikasi TikTok karena dipenuhi konten “berjoget-joget”, tampaknya sudah mulai terkikis secara perlahan. Pasalnya, kini banyak ditemui konten yang mengedukasi di TikTok. Para pengguna yang dapat mengolahnya secara tepat, menyajikan konten yang berbobot meski dalam durasi yang singkat. Misalnya konten mengenai tips dan trik untuk melakukan sesuatu. Sebab orang-orang memiliki waktu luang yang cukup banyak untuk di rumah saja, mereka tentu akan melakukan beberapa pekerjaan rumah. Supaya kegiatan tersebut dapat menjadi inspirasi untuk orang lain, mereka akan menjadikan kegiatan tersebut sebagai konten untuk diunggah di TikTok. Misalnya konten mengenai memasak berbagai jenis masakan, tips mendekorasi ruang tamu, mendekorasi kamar minimalis, dan yang lainnya.

            Tak hanya tips dan trik sederhana seperti di atas. Di TikTok kini pun dapat dijumpai tips untuk mengelola keuangan. Mengelola keuangan bukanlah hal yang mudah, namun melalui TikTok, tips tersebut disajikan secara menarik dan jelas meski dengan durasi video yang singkat. Sebagaimana dimuat pada vice.idn (www.vice.com) dengan artikel berjudul “Minat Belajar Keuangan dan Cara Jadi Kaya Raya Meningkat di TikTok”. Pada artikel tersebut menyebutkan beberapa akun yang mengedukasi cara mengelola keuangan. Antara lain yakni akun TikTok bernama @marktilbury, @humphreytalks, dan @mattlorion. Ketiganya adalah sosok yang bergelut di bidang entrepreneur. Sehingga tips dan trik yang disampaikan pun tidak asal-asalan.

            Melihat dua citra TikTok di atas, memunculkan pernyataan bahwa “pisau akan bermanfaat di tangan yang tepat”. Dengan kata lain, bahwa sesuatu akan memberikan manfaat sesuai dengan orang yang mengendalikannya. Sama seperti halnya aplikasi TikTok. TikTok akan menjadi aplikasi yang memberikan manfaat bagi orang lain di tangan pembuat konten yang tepat dengan cara mengedukasi. Dan sebaliknya, TikTok akan menjadi hal yang tidak bermanfaat apabila digunakan untuk sesuatu yang tidak berguna. Untuk netizen yang cerdas, mereka pun mempunyai kewajiban untuk memilah dan memilih. Menentukan mana konten yang bermanfaat untuk dirinya sendiri dan mana konten yang hanya akan membuang waktu saja untuk menontonnya.

Comments

Post a Comment

Popular Posts