Hidup Tak Bertetangga
Kekinian, banyak keluhan dari orang-orang, terutama anak muda mengenai keberadaan tetangga. Mereka mengeluhkan betapa ikut campurnya para tetangga dalam kehidupan pribadi seseorang. Seperti persoalan sekolah (kok nggak lulus-lulus), usia (kok nggak nikah-nikah), keturunan (kok lama banget nggak punya anak, atau malah sebaliknya) dan persoalan lain yang mungkin terhitung sepele.
Sebagai kaum millenial, mereka menulis keluhan mereka dan membagikannya di media sosial. Yang sering kali dijumpai yaitu di facebook. Mereka menuliskan keluhan dengan kata yang--biasa, atau sopan hingga sebaliknya. Namun tak jarang ada pula yang menanggapi dengan bijak.
Misalnya saja "Lahopo ngurusi omongane tonggo. Ngei mangan wae ora (Ngapain mikirin omongan tetangga. Ngasih makan aja nggak)". Atau seperti ini "Gak ngurusi cocote tonggo (Nggak peduli b*cotnya tetangga)", ini mungkin bisa masuk dalam kategori "kasar". Hingga yang bijak seperti ini "Biarkan tetangga mau ngomong apa. Mereka ada banyak. Dan kita hanya punya dua tangan buat nutup kuping dari omongan para tetangga". Atau mungkin ada yang lain?
Tak bisa dipungkiri, keluhan tersebut ada benarnya juga. Seperti di katakan di atas, mereka terlalu ikut campur dalam urusan seseorang. Hal itu sangat mengganggu bagi kebanyakan orang, tak terkecuali aku. Kuakui, aku jarang mendengar apa kata tetangga. Aku mulai belajar untuk tidak peduli dengan yang mereka katakan. Khususnya jika itu adalah hal yang negatif.
Efek dari gunjingan tetangga tidak dapat dianggap remeh. Orang-orang yang terlalu memikirkan gunjingan tersebut, bisa saja terganggu pikirannya, mentalnya, psikologisnya. Tak jarang dari mereka akan melakukan hal-hal di luar prediksi. Misalnya--bunuh diri karena tidak kuasa mendengar gunjingan-gunjingan yang ditujukan padanya.
Hal tersebut di atas, membuatku memikirkan hal-hal ke depan yang akan aku jalani. Memikirkan "jika aku begini, mereka bakal ngomong apa ya", "aku begini saja mereka "suaranya" begitu, apa lagi kalau ...", dan masih banyak jika-jika yang lain. Namun, jika aku beruntung bertetangga dengan orang yang tidak suka mencampuri, mengomentari urusan orang lain, membandingkan orang satu dengan orang lain, perkara di atas tidak akan terjadi. Tapi kupikir itu hal yang mustahil.
Hingga suatu waktu, jika aku teringat dengan betapa menyebalkannya mempunyai tetangga yang suka ikut campur, suka bergunjing, suka membicarakan di belakang, aku akan membayangkan sebuah kemerdekaan. Aku selalu terpikirkan, bahwa betapa menyenangkannya hidup tanpa tetangga. Hidup tak bertetangga. Hingga mungkin aku bisa meminjam syair milik Chairil Anwar, yaitu "Aku mau hidup (tak bertetangga) seribu tahun lagi".

Nice
ReplyDelete💞
ReplyDeleteAku pinjamkan dua tanganku untuk menutup telingamu😅
ReplyDeleteHiyahiyahiya
Delete