Bedah Buku Eventide karya Handry TM





Rabu, 6 Desember 2017 di kampus 4 lantai 6 Universitas PGRI Semarang didatangi oleh penulis buku yang dibilang aktif, yaitu Handry TM. Handry TM mendatangi kampus tentu bukan secara cuma-cuma, namun ada acara yang akan berlangsung. Yaitu acara Bedah Buku Eventide karya Handry TM. Acara tersebut diselenggarakan oleh Fakultas Bahasa dan Seni. Acara bedah buku itu diselenggarakan dengan cuma-cuma, dengan peserta terbatas, namun mendapatkan sertifikat dan ilmu yang tidak cuma-cuma.
Acara dimulai pukul 08:30 WIB, namun layaknya orang Indonesia pada umumnya, waktu yang dijadwalkan pasti tidak tepat. Kemudian acara benar-benar dimulai sekitar pukul 09:00 WIB, yang diawali dengan sambutan oleh ketua panitia yaitu pak Setia Naka Andrian yang juga merupakan salah satu dosen FPBS. Kemudian bersambung dengan penandatanganan surat kerja sama dan sambutan oleh Dekan FPBS sekaligus membuka acara Bedah Buka Eventide karya Handry TM. Acara tersebut mengundang antusias banyak mahasiswa FPBS, sehingga ruangan yang telah disediakan oleh panitia terpenuhi dengan cepat. Dalam acara tersebut dibuka dengan pembacaan puisi oleh dua mahasiswa FPBS. Puisi yang dibacakan membuat kagum peserta Bedah Buku Eventide, dan mereka menikmati pembacaan puisi tersebut dengan khidmat.
Setelah pembacaan puisi, acara berlanjut pada puncaknya. Acara itu dibawakan oleh pak Muhajir Arrosyid yang juga salah satu dosen FPBS, dan mendatangkan 3 pembicara yaitu Dr. Nur Hidayat M. Hum. selaku Ketua HISKI Komisariat UPGRIS, M. Teguh Satriya S. Pd. selaku guru Bahasa Indonesia SMA Kesatrian 2 Semarang, dan Handry TM sebagai penulis buku puisi Eventide tersebut. Judul dari buku ini sendiri artinya Senja. Dalam pembicaraan, disebutkan bahwa terdapat kurang lebih 170 puisi yang mulai ditulis pada tahun 1981. Buku tersebut berisikan pengalaman apa saja yang pernah terjadi pada Handry TM dan dituangkan dalam bentuk puisi. Mulai dari kehidupan sehari-hari, berita, dan asmara. Semua dapat dibuatnya menjadi sebuah puisi yang indah dan mudah untuk dipahami. Salah satu contohnya yaitu kasus kopi maut antara Jesica dan Mirna. Handry TM menuliskan sebuah puisi yang apabila pembaca membacanya akan teringat pada kasus kopi tersebut.
Tidak hanya itu, pembedah buku juga mengungkapkan bahwa buku puisi tersebut berisikan perjalanan ke luar negeri. Tak jarang juga penulisan puisi menggunakan istilah asing. Meskipun begitu, pembedah juga mengungkapkanbahwa puisi tersebut mudah dipahami. Tidak membuat otak bekerja dua kali. Di sela-sela pembicaraan, Hendry TM memberikan pertanyaan kepada peserta, dan membagikan buku Eventide bagi yang dapat menjawab pertanyaan yang diberikan. Selain memberi pertanyaan, Handry TM juga menantang peserta bedah buku untuk membacakan salah satu puisi yang terdapat dalam buku tersebut.
Pembicaraan berakhir dan dibuka sesi tanya jawab untuk tiga pertanyaan. Dengan antusias, mahasiswa mengangkat tangan dan ingin segera bertanya. Setelah pertanyaan-pertanyaan terjawab, acara ditutup dan diakhiri dengan foto bersama. Acara berlangsung dengan lancar dan tertib. Tidak ada mahasiswa yang keluar masuk ruangan dengan seenaknya saja. Kesimpulan yang dapat diperoleh dari acara bedah buku ini adalah menulis itu mudah. Tulis apa yang dilihat, yang dirasakan, tulis apa yang ingin ditulis. Tidak perlu susah payah untuk memikirkan apa yang ingin ditulis. Karena sejatinya ide untuk menulis itu selalu berdatangan. Dari manapun, kapanpun, dan di mana pun keberadaan kita, ide pasti selalu muncul.  (Nurul Hidayah)

Comments

Popular Posts