Bedah Buku Eventide karya Handry TM
Acara dimulai pukul 08:30 WIB,
namun layaknya orang Indonesia pada umumnya, waktu yang dijadwalkan pasti tidak
tepat. Kemudian acara benar-benar dimulai sekitar pukul 09:00 WIB, yang diawali
dengan sambutan oleh ketua panitia yaitu pak Setia Naka Andrian yang juga
merupakan salah satu dosen FPBS. Kemudian bersambung dengan penandatanganan
surat kerja sama dan sambutan oleh Dekan FPBS sekaligus membuka acara Bedah
Buka Eventide karya Handry TM. Acara tersebut mengundang antusias banyak
mahasiswa FPBS, sehingga ruangan yang telah disediakan oleh panitia terpenuhi
dengan cepat. Dalam acara tersebut dibuka dengan pembacaan puisi oleh dua
mahasiswa FPBS. Puisi yang dibacakan membuat kagum peserta Bedah Buku Eventide,
dan mereka menikmati pembacaan puisi tersebut dengan khidmat.
Setelah pembacaan puisi, acara
berlanjut pada puncaknya. Acara itu dibawakan oleh pak Muhajir Arrosyid yang juga salah satu dosen FPBS, dan mendatangkan 3
pembicara yaitu Dr. Nur Hidayat M. Hum. selaku Ketua HISKI Komisariat UPGRIS,
M. Teguh Satriya S. Pd. selaku guru Bahasa Indonesia SMA Kesatrian 2 Semarang,
dan Handry TM sebagai penulis buku puisi Eventide tersebut. Judul dari buku ini
sendiri artinya Senja. Dalam pembicaraan, disebutkan bahwa terdapat kurang
lebih 170 puisi yang mulai ditulis pada tahun 1981. Buku tersebut berisikan
pengalaman apa saja yang pernah terjadi pada Handry TM dan dituangkan dalam
bentuk puisi. Mulai dari kehidupan sehari-hari, berita, dan asmara. Semua dapat
dibuatnya menjadi sebuah puisi yang indah dan mudah untuk dipahami. Salah satu
contohnya yaitu kasus kopi maut antara Jesica dan Mirna. Handry TM menuliskan
sebuah puisi yang apabila pembaca membacanya akan teringat pada kasus kopi
tersebut.
Tidak hanya itu, pembedah buku
juga mengungkapkan bahwa buku puisi tersebut berisikan perjalanan ke luar
negeri. Tak jarang juga penulisan puisi menggunakan istilah asing. Meskipun
begitu, pembedah juga mengungkapkanbahwa puisi tersebut mudah dipahami. Tidak
membuat otak bekerja dua kali. Di sela-sela pembicaraan, Hendry TM memberikan
pertanyaan kepada peserta, dan membagikan buku Eventide bagi yang dapat
menjawab pertanyaan yang diberikan. Selain memberi pertanyaan, Handry TM juga
menantang peserta bedah buku untuk membacakan salah satu puisi yang terdapat
dalam buku tersebut.
Pembicaraan berakhir dan dibuka
sesi tanya jawab untuk tiga pertanyaan. Dengan antusias, mahasiswa mengangkat
tangan dan ingin segera bertanya. Setelah pertanyaan-pertanyaan terjawab, acara
ditutup dan diakhiri dengan foto bersama. Acara berlangsung dengan lancar dan
tertib. Tidak ada mahasiswa yang keluar masuk ruangan dengan seenaknya saja. Kesimpulan
yang dapat diperoleh dari acara bedah buku ini adalah menulis itu mudah. Tulis
apa yang dilihat, yang dirasakan, tulis apa yang ingin ditulis. Tidak perlu
susah payah untuk memikirkan apa yang ingin ditulis. Karena sejatinya ide untuk
menulis itu selalu berdatangan. Dari manapun, kapanpun, dan di mana pun
keberadaan kita, ide pasti selalu muncul. (Nurul Hidayah)

Comments
Post a Comment