Kemah Sastra UPGRIS '17
Tulisan di atas saya tulis pada saat Kemah Sastra yang diadakan oleh Hima PBSI UPGRIS tahun 2017 sekitar bulan Oktober. Saat itu panitia mendatangkan pemateri dari luar universitas. Dalam kesempatan tersebut, pemateri menyampaikan beberapa hal tentang karya sastra dan juga membagi pengalaman yang telah dilewati. Seperti halnya pemateri menyampaikan beberapa hal yang diperlukan untuk menjadi sastrawan. Ada tiga poin yang saya tangkap saat itu. Yaitu:
1. Seorang sastrawan harus terbiasa membaca buku. Karena dengan membaca buku kita dapat memperluas perbendaharaan kosa kata kita. Membaca buku juga menambah pengetahuan kita tentang suatu ilmu ataupun yang lain yang belum pernah kita ketahui sebelumnya.
2. Gaul (aktif dalam kegiatan positif). Gaul disini bukan dalam artian yang negatif. Maksudnya yaitu kita aktif dalam kegiatan sastra. Seperti kemah sastra ini. Contoh lain yaitu aktif mengikuti kegiatan yang bertemakan sastra. Seperti sekolah menulis, membaca, sering membaca buku, mengunjungi perpustakaan dan lain lain.
3. Mulai menulis apa yang disukai. Contoh: misalkan kita suka menulis puisi. Maka kita tulis puisi dan kita mengumpulkannya terlebih dahulu. Jika sudah waktunya, boleh kita berbagi tulisan kita tersebut lewat apa saja. Seperti jaman sekarang ini, kita bisa berbagi tulisan kita lewat apa saja, blog, twitter, facebook atau yang lain. Atau jika ada kesempatan, kita bisa mengirim tulisan kita dalam perlombaan. Mungkin dari tingkat yang rendah sampai tinggi sekalipun. Tidak ada salahnya kita mencoba. Jika kita gagal, kita tidak perlu bersedih. Yang harus kita lakukan adalah bangkit dan mencoba lagi
Dalam penyampaian materi tersebut juga dibuka sesi tanya jawab. Dan ada mahasiswa yang bertanya "Bagaimana jika tulisan kami tanpa sengaja mirip dengan tulisan sastrawan yang kami jadikan panduan dalam menulis?". Pemateri menjelaskan bahwa beliau seringkali mendapat pertanyaan semacam ini. Dan pemateri memaklumi hal tersebut. Karena menurut W.S Rendra " Tidak ada yang baru di bawah matahari". Maksudnya, tidak ada hal yang benar benar baru di muka bumi ini. Melainkan pasti ada yang mendahului karya tersebut tanpa sengaja. Dan jika ada kemiripan, sah sah saja. Yang terpenting kita terlebih dahulu berani memulai berkarya. Dan jangan pernah takut untuk memulai berkarya. Karena sastra adalah satu jalan panjang yang tak bertepi.
Semarang, September 2017
Nurul Hidayah PBSI UPGRIS '17



Comments
Post a Comment